Awalnya. Saya benci sastra, terutama puisi. Walaupun saya berada di sebuah gedung perkuliahan yang berlabelkan Fakultas Sastra Universitas Udayana, dengan spesifikasi sastra inggris. Entah pengalaman dan pergulatan batin apa yang saya lalui, di suatu pagi saya terbangun dan mengatakan saya suka puisi dan akan menulis puisi!
Tangan pun meraba – raba di rak lemari, terjatuhlah buku kecil berjudul semisal. Mirip buku puisi, atau buku puisi? Karangan Giri Ratomo, sutradara teaterku di kelompok Satukosongdelapan. Kulihat tanggal pembuatannya, 2005, hmm tiga tahun lalu. Ya sudah tiga tahun lalu ketika Mas Tomo, panggilan akrabnya, dan Mas deddy sahabat akrabnya bersibuk ria dalam proyek peluncuran buku. buku puisi. Buku puisi indie. Buatan sendiri. Dan di terbitkan sendiri. Mas Tomo tidaklah mengajarkan apapun. Dia hanya menularkan semangat. Ya Semangat. Satu kata yang akhirnya sadar atau tidak mempengaruhi peluncuran buku puisi indie berikutnya oleh Bayu Sakti dari Fakultas Sastra Udayana dan dua buku puisi indie oleh Raden Prakiyul Wahono Noto Susanto mahasiswa seni rupa dan design ISI denpasar. Yang benar – benar menginspirasi saya.
Semangat itu pulalah yang memompa saya untuk bangun dan menaiki supra merah saya untuk menuju warnet terdekat. Saya buka google. Saya ketik puisi dan saya melakukan surfing beberapa bacaan Sastra.
Adalah Noviana Kusuma Wardhani, seorang guru dalam ilmu penulisan yang karya – karya nya sungguh saya kagumi. Berkat dialah saya di desak untuk membuat blog puisi sendiri, yaitu www.satriowelang.blogdrive.com dan kemudian mulai menulis sampai sekarang. O ya, jika ingin membaca karya – karya keren Bude Novi kunjungi saja www.kekasihwaktu.blogdrive.com
Sayapun memutuskan untuk mengunjungi Muda Wijaya ( membahas dunia sastra selama berjam – jam), membuat janji bertemu Pranita Dewi, membuat kontak dengan Wayan Sunartha, Putu Vivi Lestari, Saraswita Laksmi, Purnama, Joan, Surya Kencana, Hendra Utay, Giri Ratomo, Raden Prakiyul dan beberapa teman lainnya. Sayapun mengontak Cok Sawitri, Ricky Damparan Putra, yang akhirnya tetap memberikan dukungan walaupun memilih tidak terlibat langsung dengan tujuan ingin memberi kesempatan pada kami yang muda – muda. Dukungan dari Oka Rusmini dan Warih Wisatsana pun tak ada habis –habisnya. Kami berterimakasih untuk itu.
Pembicaraan singkat saya, dengan ketua saya di Youth Corner, Eka Damartha dan Pemilik PT ABC ( Alam Bahana Cipta) dimana Youth Corner bernaung, Gilda Lim Sagrado, menyeret saya untuk meneruskan ide membuat antologi puisi bersama penulis muda bali. Entah itu dari kalangan penyair terkenal atau bukan, kalangan penyair atau bukan penyair.
Sulitnya mencari penerbit memaksa kami untuk menerbitkan sendiri buku ini, dan muncullah nama Sudarmoko atau Mas Moko yang seratus persen mendukung saya untuk tetap nekat menjadikan impian ini nyata.
Ucapan terimakasih pun tak lupa kami kirimkan kepada Drs. Jiwa Atmaja,S.U. atas kesediaannya membuatkan pengantar untuk buku kami. Tentunya para ibu pelindung kami yang begitu sabar mendidik dan membesarkan kami, Gilda Lim Sagrado, Sita Soekaton, dan juga Dian Ekawati. Tanpa beliau kami lebih sulit lagi berdiri dan bernafas.
Visi dan misi Youth Corner, jelas menjadikan dirinya media anak muda dalam berkreatifitas. Bidang yang di cakupinya pun bermacam – macam. Youth Corner menysusup dengan berbagai cara, melalui web blog, siaran radio maupun event. Dunia anak muda begitu luas. Tapi ini ini tak menyebabkan Youth Corner surut mundur. Walaupun baru saja merayakan ulang tahunnya yang pertama, Youth Corner ingin menjadi gerbang anak muda dalam bidang apapun, semasih itu positif untuk dilakukan. Seperti slogannya selama ini, Media For Youth. Youngster In touch.
Maka buku ini pun disini, kau pegang. Siap kau buang ataupun kau simpan di rak lemari bukumu, dan begitu ada sahabat yang datang dari Makassar ataupun Aceh yang ingin melihat karya teman – teman di Bali, dengan senyum siap kau tunjukkan.
Moch Satrio Welang
Tangan pun meraba – raba di rak lemari, terjatuhlah buku kecil berjudul semisal. Mirip buku puisi, atau buku puisi? Karangan Giri Ratomo, sutradara teaterku di kelompok Satukosongdelapan. Kulihat tanggal pembuatannya, 2005, hmm tiga tahun lalu. Ya sudah tiga tahun lalu ketika Mas Tomo, panggilan akrabnya, dan Mas deddy sahabat akrabnya bersibuk ria dalam proyek peluncuran buku. buku puisi. Buku puisi indie. Buatan sendiri. Dan di terbitkan sendiri. Mas Tomo tidaklah mengajarkan apapun. Dia hanya menularkan semangat. Ya Semangat. Satu kata yang akhirnya sadar atau tidak mempengaruhi peluncuran buku puisi indie berikutnya oleh Bayu Sakti dari Fakultas Sastra Udayana dan dua buku puisi indie oleh Raden Prakiyul Wahono Noto Susanto mahasiswa seni rupa dan design ISI denpasar. Yang benar – benar menginspirasi saya.
Semangat itu pulalah yang memompa saya untuk bangun dan menaiki supra merah saya untuk menuju warnet terdekat. Saya buka google. Saya ketik puisi dan saya melakukan surfing beberapa bacaan Sastra.
Adalah Noviana Kusuma Wardhani, seorang guru dalam ilmu penulisan yang karya – karya nya sungguh saya kagumi. Berkat dialah saya di desak untuk membuat blog puisi sendiri, yaitu www.satriowelang.blogdrive.com dan kemudian mulai menulis sampai sekarang. O ya, jika ingin membaca karya – karya keren Bude Novi kunjungi saja www.kekasihwaktu.blogdrive.com
Sayapun memutuskan untuk mengunjungi Muda Wijaya ( membahas dunia sastra selama berjam – jam), membuat janji bertemu Pranita Dewi, membuat kontak dengan Wayan Sunartha, Putu Vivi Lestari, Saraswita Laksmi, Purnama, Joan, Surya Kencana, Hendra Utay, Giri Ratomo, Raden Prakiyul dan beberapa teman lainnya. Sayapun mengontak Cok Sawitri, Ricky Damparan Putra, yang akhirnya tetap memberikan dukungan walaupun memilih tidak terlibat langsung dengan tujuan ingin memberi kesempatan pada kami yang muda – muda. Dukungan dari Oka Rusmini dan Warih Wisatsana pun tak ada habis –habisnya. Kami berterimakasih untuk itu.
Pembicaraan singkat saya, dengan ketua saya di Youth Corner, Eka Damartha dan Pemilik PT ABC ( Alam Bahana Cipta) dimana Youth Corner bernaung, Gilda Lim Sagrado, menyeret saya untuk meneruskan ide membuat antologi puisi bersama penulis muda bali. Entah itu dari kalangan penyair terkenal atau bukan, kalangan penyair atau bukan penyair.
Sulitnya mencari penerbit memaksa kami untuk menerbitkan sendiri buku ini, dan muncullah nama Sudarmoko atau Mas Moko yang seratus persen mendukung saya untuk tetap nekat menjadikan impian ini nyata.
Ucapan terimakasih pun tak lupa kami kirimkan kepada Drs. Jiwa Atmaja,S.U. atas kesediaannya membuatkan pengantar untuk buku kami. Tentunya para ibu pelindung kami yang begitu sabar mendidik dan membesarkan kami, Gilda Lim Sagrado, Sita Soekaton, dan juga Dian Ekawati. Tanpa beliau kami lebih sulit lagi berdiri dan bernafas.
Visi dan misi Youth Corner, jelas menjadikan dirinya media anak muda dalam berkreatifitas. Bidang yang di cakupinya pun bermacam – macam. Youth Corner menysusup dengan berbagai cara, melalui web blog, siaran radio maupun event. Dunia anak muda begitu luas. Tapi ini ini tak menyebabkan Youth Corner surut mundur. Walaupun baru saja merayakan ulang tahunnya yang pertama, Youth Corner ingin menjadi gerbang anak muda dalam bidang apapun, semasih itu positif untuk dilakukan. Seperti slogannya selama ini, Media For Youth. Youngster In touch.
Maka buku ini pun disini, kau pegang. Siap kau buang ataupun kau simpan di rak lemari bukumu, dan begitu ada sahabat yang datang dari Makassar ataupun Aceh yang ingin melihat karya teman – teman di Bali, dengan senyum siap kau tunjukkan.
Moch Satrio Welang



Post a Comment